Perempuan Lebih Rentan Kehilangan Pekerjaan karena Teknologi

Oleh : admin
23 Januari 2018
191
  
data-layout="button_count" data-action="like" data-show-faces="false" data-share="false">

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan World Economic Forum (WEF) melaporkan, lebih dari separuh pekerjawanita diekspektasikan bakal kehilangan pekerjaan. Mereka terdampak oleh disrupsi teknologi.

Mengutip CNBC, Selasa (23/1/2018), dalam laporan yang dirilis awal pekan ini, WEF menyatakan, di AS saja, 57 persen dari 1,4 juta pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan berisiko digantikan oleh mesin dalam waktu 8 tahun ke depan.

Mereka pun memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk bertransisi ke pekerjaan yang sifatnya lebih berketerampilan tinggi.

Meskipun sudah ada pemberian keterampilan baru atau lanjutan, para pekerja perempuan tetap saja memiliki opsi yang lebih sedikit ketimbang pria untuk menemukan alternatif karier. WEF mengistilahkannya dengan reskilling, yakni pemberian keterampilan dan kapabilitas yang dibutuhkan untuk lingkungan kerja yang baru.

Namun demikian, laporan tersebut menyatakan pula bahwa transisi karier dengan keterampilan baru dapat membawa kesempatan untuk menurunkan ketimpangan gaji sesuai gender. Kombinasi reskilling dan perpindahan ke pekerjaan yang baru dapat meningkatkan gaji perempuan yang terdampak hingga 74 persen, sementara untuk pria hanya 53 persen.

Pekerjaan memberikan arti, identitas, dan kesempatan bagi orang-orang," ujar Saadia Zahidi, kepala inisiatif pendidikan, gender, dan sistem kerja WEF.

Zahidi menuturkan, perlu disadari bahwa keterampilan sangat penting untuk redistribusi pekerjaan. Membekali pekerja dengan keahlian yang dibutuhkan untuk transisi pekerjaan adalah amunisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, serta untuk menjamin penghidupan yang stabil bagi mereka yang berada di pusaran perubahan teknologi.

Pada tahun ini, Pertemuan WEF di Davos, Swiss, dikepalai oleh para perempuan untuk pertama kalinya dalam 48 tahun. Pimpinan pertemuan ini antara lain Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde, CEO IBM Ginni Rometty, dan Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg.

Pertemuan WEF dihadiri oleh para oemimpin dunia, baik di bidang politik maupun bisnis.

 

Penulis : Sakina Rakhma Diah Setiawan

Editor    : Erlangga Djumena

Sumber : CNBC

http://ekonomi.kompas.com


komentar
tulis komentar anda

Create Account



Log In Your Account