Akademi Angkatan Udara, Pencetak Insan Dirgantara Indonesia

Oleh : admin
16 April 2018
264
  
data-layout="button_count" data-action="like" data-show-faces="false" data-share="false">

BULAN April, bulan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara belum lagi berlalu. Tahun ini, TNI AU yang masuk ke usia 72 tahun, kembali menunjukkan kepiawaiannya dan upayanya mendekatkan diri kepada masyarakat umum melalui Pesta Rakyat yang digelar tiga hari sebelum 9 April 2018. Masih melekat dalam ingatan, bagaimana saat menjadi inspektur upacara dalam perayaan HUT ke-72 TNI AU di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Yuyu Sutisna menyatakan, “Pentingnya menjadi insan dirgantara yang ksatria, militan, loyal, profesional dan modern.” KSAU Marsekal Yuyu Sutisna merumuskannya dengan tepat. Selajur kriteria yang sangat pas. Ramuan yang pasti –dengan izin Yang Maha Kuasa- mampu membentuk insan dirgantara kita yang unggul di antara bangsa-bangsa di dunia.

Kriteria Bayangkan, begitu lengkap, sempurna dan berat sekali kriteria ini bila dijabarkan. Pertama, para insan dirgantara itu harus ksatria, yaitu seorang prajurit yang gagah dan pemberani. Kedua, ia harus bersikap militan, yaitu bersemangat tinggi, penuh gairah dan berhaluan keras membela udaranya, TNI dan bangsanya. Ketiga, ia harus loyal, atau setia penuh kepada matranya: TNI Angkatan Udara. Keempat, ia seorang yang profesional, yaitu punya kepandaian khusus yang gemilang. Kemudian kelima, ia bersikap modern, menguasai sesuatu yang muktahir dalam bidang keahliannya.

Tidak bisa kita sangsikan, insan dirgantara dengan kelima kualifikasi yang secara khusus disebutkan KSAU tersebut hanya bisa dihasilkan oleh Akademi TNI Angkatan Udara (disingkat AAU). Pendidikan militer setara perguruan tinggi yang mencetak elang-elang tanah air Indonesia, yang berlokasi di Lanud Adisutjipto, Maguwohardjo, Yogyakarta.

Sejarah Akademi Angkatan Udara Dalam laman situs AAU dituliskan, AAU mulanya adalah Sekolah Penerbang yang didirikan pada tanggal 15 November 1945 oleh Agustinus Adisutjipto di Pangkalan Udara Maguwo (Lanud Adisutjipto) Yogyakarta. Dalam Aku Sayap Tanah Air! Kisah Hidup dan Perjuangan Bapak AURI Marsekal R. Soeriadi Suryadarma (2015), KSAU pertama ini menaruh perhatian tertinggi pada bidang pendidikan penerbang karena Indonesia yang baru merdeka memang sangat kekurangan penerbang. Itulah yang menyebabkan Laksamana (pangkat kala itu yang setara dengan Marsekal) Suryadarma meminta Adisutjipto mendirikan Sekolah Penerbang.

Pada September 1947, untuk pertama kali TNI AU menerima pemuda-pemuda untuk dididik sebagai siswa penerbang. Pendidikan dibekali dengan dasar kemiliteran di Bukittinggi, Sumatera Barat dan dilanjutkan dengan pendidikan penerbang di India. Pada bulan November 1950 sebanyak 60 Kadet TNI AU dikirim ke California (USA) untuk mengikuti pendidikan penerbang di Taloa. Di antara mereka adalah Omar Dani dan Saleh Basarah, yang pada masanya menjadi pucuk pimpinan TNI AU. Dalam perkembangan selanjutnya, dilaksanakan pembangunan gedung sebagai sarana tempat belajar. Bertepatan dengan Hari TNI AU 9 April 1960, diadakan upacara peletakan batu pertama pembangunan Kesatrian Akademi Angkatan Udara di Lanud Adisutjipto.

Selanjutnya pada 26 Juli 1965 Kesatrian AAU diresmikan Menteri Panglima Angkatan Udara, Laksamana Omar Dani. Tanggal ini kemudian diperingati setiap tahun sebagai Hari Ulang Tahun Akademi Angkatan Udara. Informasi yang termuat pada situs resmi AAU, pada 16 Desember 1966, AAU bersama-sama dengan lembaga pendidikan militer lainnya: Akademi Militer Nasional (AMN), Akademi Angkatan Laut (AAL) dan Akademi Angkatan Kepolisian (AAK) diintegrasikan menjadi Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI). Selanjutnya, AAU menjadi Akabri bagian udara. Dalam rangka reorganisasi ABRI dan sesuai kebijakan petinggi ABRI, sejak tanggal 16 Juni 1984 Akabri Bagian Udara kemudian dikembalikan ke jajaran TNI AU dengan nama Akademi TNI Angkatan Udara (AAU).

Perjuangan dan persaingan yang ketat Pada April 2018 ini, bertepatan dengan bulan kelahiran TNI AU ke-72, menjadi puncaknya kita menyaksikan anak-anak muda Indonesia terbaik –yang baru melepas usia 17 tahunnya- bersaing ketat, sportif, dan penuh kecintaan kepada tanah airnya untuk memperebutkan tempat terbatas pendidikan taruna AAU. Ini persaingan yang berat. Karena puluhan ribu peminat hanya untuk menjaring 200-an taruna saja. Pendaftaran calon taruna dan taruni Akademi Angkatan Udara Tahun Akademik (TA) 2018 dimulai sejak 1 Maret 2018 dan ditutup 30 April 2018.

Lokasi pendaftaran dan seleksi dibuka di seluruh penjuru tanah air, mulai dari Pangkalan Udara (Lanud) Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh, sampai Lanud Jayapura di Jayapura.

Darimana motivasi muncul? Mereka yang menempuh pendidikan di AAU tentunya kelak menjadi calon-calon pemimpin TNI yang mumpuni di era TNI AU yang modern saat ini. Tetapi tahukah kita dari mana motivasi untuk berkarier sebagai “Elang Penjaga Tanah Air” ini muncul? Lettu Nav Igi Purwana (26), lulusan AAU angkatan 2015 yang saat ini bertugas di Skadron Udara 31 Halim Perdanakusuma, bercerita soal motivasinya masuk menjadi prajurit TNI AU.

“Motivasi saya masuk AAU berawal saat saya bersekolah di SMAN 3 Tasikmalaya. Kebetulan letak sekolah saya ini persis di samping Lanud Wiriadinata. Setiap saya berangkat dan pulang sekolah, saya sering melihat anggota TNI AU yang melaksanakan dinas. Kemudian, pernah suatu kali, ketika duduk di Kelas XI (Kelas 2 SMA), kami siswa diberi kesempatan masuk ke dalam pangkalan untuk melihat-lihat pesawat Ec-120 Colibri milik TNI AU yang saat itu sedang ada kegiatan di Lanud Wiriadinata. Kebetulan pula banyak kakak kelas saya yang mendaftarkan diri ke AAU dan diterima. Sehingga sejak itu, saya berniat untuk masuk TNI AU.”

Atau bisa juga disimak kisah Letkol Pnb. Fata Patria (41), Komandan Skadron Udara 31 Halim Perdanakusuma. Ia Angkatan 1998 AAU. “Saya sekolah di SMA TN (Taruna Nusantara) Magelang. Jadi, motivasi untuk masuk sekolah militer memang selalu datang dari kakak-kakak kelas saya. Terutama mereka yang sudah duduk di Akademi Militer. Entah kenapa di tahun terakhir saya kemudian justru tertarik masuk AAU. Saya ingin menjadi penerbang.”

Fata memang akhirnya menjadi penerbang pesawat angkut berat Hercules, dan kini memimpin “rumah” Hercules: Skadron Udara 31. Igi dan Fata hanya dua contoh dari sekian banyak elang-elang muda TNI AU yang kelak akan memimpin TNI AU, dan kelak memimpin negaranya. Di awal kemerdekaan dulu, pendiri bangsa kita, presiden pertama Bung Karno, dengan sadar meletakkan semangat menguasai dirgantara sebagai dasar membangun sebuah Angkatan Perang yang mumpuni dan disegani. Maka, sekarang rasanya tepat jika KSAU Marsekal Yuyu Sutisna menempatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi kedirgantaraan sebagai modal bagi TNI Angkatan Udara ke depan. Tujuannya, menguasai dan menjaga kedaulatan negara di udara.

Jayalah TNI Angkatan Udara. Jayalah Akademi Angkatan Udara. Sayap Tanah Airku.

Editor : Heru Margianto

https://nasional.kompas.com

 


komentar
tulis komentar anda

Create Account



Log In Your Account