Kisah Wati dan Wida, Kartini Kembar dalam Dunia Pedalangan

Oleh : admin
24 April 2018
186
  
data-layout="button_count" data-action="like" data-show-faces="false" data-share="false">

SOLO, KOMPAS.com - Emansipasi wanita rupanya telah menyebar dalam segala bidang, termasuk dalam dunia pedalangan. Ini terbukti dengan hadirnya wanita yang mulai berkiprah sebagai dalang. Dalang adalah profesi yang selama ini didominasi oleh kaum lelaki. Namun, Seruni Widawati dan Seruni Widaningrum berhasil menunjukan kemampuan mereka dalam bidang ini. Menjadi dalang bukanlah hal yang mudah. Selain membutuhkan keterampilan suara atau dalam dunia pewayangan disebut dengan antawacana, kekuatan kaki dan keterampilan tangan juga diperlukan untuk menyajikan sebuah atraksi menakjubkan saat pementasan wayang. Meskipun telah mendalami dunia pedalangan sejak duduk di bangku kelas empat SD, gadis kembar kelahiran Wonogiri ini masih mengaku memiliki kesulitan saat beratraksi sebagai dalang.

"Perempuan itu yang paling lemah biasanya keterampilan tangan. Jadi, saya lebih mematangkan kemampuan kaki saya waktu main wayang," papar Wida, sapaan akrab Seruni Widaningrum. Berbeda dengan saudara kembarnya, Seruni Widawati atau yang akrab dipanggil Wati ini mengakui bahwa kemampuan antawacana adalah kelemahannya. "Beberapa karakter wayang itu butuh suara yang lantang. Tapi, suara saya ini kecil. Untuk mengakalinya, yah, saya mantapkan saja di pendalaman karakter. Jadi, kalo pas mainin karakter jahat saya bisa sampai melotot-melotot," papar Wati.

Gadis kembar kelahiran Wonogiri ini bercerita bahwa mereka sama sekali tak memiliki turunan darah seni yang membuatnya berniat mendalami dunia seni tradisonal Jawa ini. "Ayah kami itu guru fisika. Dan, ibu kami, yah, ibu rumah tangga. Kami tertarik pada seni wayang ini karena orang tua yang saat itu mendaftarkan kami masuk sanggar namanya Balai Budaya Minomartani, Yogyakarta," tambah Wida. Gadis kembar yang tumbuh besar di Yogyakarta ini kompak menyebut Ki dalang Sukisno sebagai sosok yang menginspirasi mereka selama ini. Sebagai bentuk keseriusan mereka mendalami seni tradisional ini, mereka berdua pun melanjutkan pendidikan di Institut Seni Indonesia Surakarta dengan jurusan Seni pedalangan.
Berdasarkan pengakuan mereka, honor menjadi dalang bisa mencapai Rp 5 juta rupiah dalam sekali tampil. Namun, pementasan wayang tidak mesti ada setiap bulannya.

"Penghasilan jadi dalang ini nggak pasti. Jadi, saya ingin menjadi dosen yang mengajar tentang dunia wayang sambil terus menekuni profesi sebagai dalang," papar Wida yang juga diamini oleh Wati. "Minimal dalam setahun kita dua kali manggung," aku Wida. Wida dan Wati juga menceritakan bahwa jumlah dalang wanita hanya hitungan jari. Bahkan, untuk area karasidenan Jawa tengah saja jumlah dalang wanita tak sampai sepuluh orang. "Anak muda, khususnya yang asli Jawa, harusnya suka wayang. Belajar wayang, apalagi bagi perempuan, itu penuh tantangan dan seru," kata Wida. "Ada banyak nilai moral dari kisah pewayangan yang bisa kita ambil hikmahnya. Contohnya kita bisa belajar mana yang salah dan baik lewat tokoh dalam dunia wayang," tambah Wati.
 

Penulis : Ariska Puspita Anggraini
Editor : Wisnubrata

https://lifestyle.kompas.com


komentar
tulis komentar anda

Create Account



Log In Your Account