SI MERAH BERNILAI EKONOMI TINGGI

Oleh : kominfo
31 Mei 2018
150
  
data-layout="button_count" data-action="like" data-show-faces="false" data-share="false">

KEDAWUNG-  Budidaya bawang merah sebaiknya berada di lingkungan di ketinggian 0 sampai 900 di bawah permukaan laut. Sedangkan suhu daerah yang mendukung pertumbuhan bawang merah sekitar 25 sampai 35 derajat celcius. Sedangkan batas keasaman tanah berkisar antara pH 5,6 sampai 7. Berdasarkan kriteria ini, kondisi tanah dan iklim di Bumi Sukowati, sangat mendukung untuk budidaya bawang merah.

 Di Dukuh Tanjung Desa Celep Kecamatan Kedawung, Diskominfo menemui Sugiman (60) yang menggalakkan budidaya bawang merah di sebagian lahan miliknya. Di lahan seluas 1000m2 itu, Sugiman dibantu putranya mengembangkan tanaman bawang merah, dan beberapa jenis komoditi pertanian lain seperti cabai merah, kacang panjang, dan tomat.

Bawang merah atau allium ascalonicum merupakan jenis tanaman holtikultura bernilai ekonomi tinggi. Sebelum menanam bawang merah terlebih dahulu perlu dipersiapkan lahan tanam. “ Kami membuat bedengan  selebar 1-1,2 meter, tinggi 50 cm, dan pajang disesuaikan dengan lahan yang tersedia,” jelas Sugiman.  Jarak antar bedengan sekitar 50 cm, sekaligus dijadikan sebagai parit dengan kedalaman 50 cm. Selanjutnya Sugiman menggemburkan tanah di bedengan dengan cara mencangkulnya sedalam 20 cm.

Untuk pupuk dasar, Sugiman menggunakan pupuk kandang atau pupuk kompos. Bisa juga dengan menambahkan pupuk kimia seperti ZA, SP-36 dan KCL sebanyak 47 Kg, 311 Kg dan 56 Kg untuk lahan satu hektar.  Setelah bedengan siap tanam,  umbi atau bibit bawang merah  disiapkan.  Apabila bibit yang digunakan berusia kurang dari 2 bulan sebaiknya dilakukan penggoresan pada bagian ujung umbi, sekitar 0,5 cm. Hal ini bertujuan untuk memecah masa dorman sehingga mempercepat tumbuhnya tunas tanaman.

“ Kami mengenal dua jenis bibit bawang merah, yaitu ‘Brebes’ dan ‘Thailand’”, kata Sugiman. Bibit ini dinamakan sesuai daerah asal masing-masing. Bibit ‘Brebes’ lebih mahal daripada yang impor. Untuk sekilo bibit, harganya Rp. 40.000,00. Dalam satu masa tanam, biasanya Sugiman membutuhkan 1 kwintal bibit. Bibit yang berasal dari Brebes diakui Sugiman lebih baik dari yang Thailand. “ Jadinya bawang merah nanti lebih besar, warnanya merah tua dan tidak pucat, serta nanti harga jualnya lebih tinggi ,” kata Sugiman.

Cara menanam bawang merah pada musim kemarau adalah memberikan jarak tanam dipadatkan menjadi 15 x 15 cm. Sedangkan penanaman pada musim penghujan buatlah jarak tanam minimal 20 x 20 cm. Cara menanam benih bawang merah yakni dengan cara membenamkan seluruh bagian umbi ke dalam tanah.

“ Perawatan tanaman bawang merah, gampang-gampang susah , “ kata Sugiman. Sepanjang masa tanam, dirinya harus waspada terhadap serangan hama kaper dan ulat. Pemupukan dilakukan saat umur 10 hari, 20 hari, dan 30 hari. Selanjutnya, tanaman bawang merah tidak perlu dipupuk lagi. Cukup disemprot dan dibersihkan rumputnya.  Jika pemilihan bibit baik, perawatan tepat, satu umbi bibit akan menghasilkan enam kali lipat. Terakhir panen beberapa waktu lalu, bahkan Sugiman dapat memanen 8 kwintal bawang merah.

 Masa tanam yang relatif pendek, yaitu 50-60 hari, tak lantas membuat Sugiman menanami lahannya dengan bawang merah terus menerus sepanjang tahun.  Budidaya bawang merah cocok dilakukan ketika musim panas tiba, karena tanaman memerlukan penyinaran matahari lebih dari 12 jam setiap harinya.  "Jangan terlalu terburu-buru kalau mau tanam bawang merah setelah panen, istirahatkan lahan agar tanah netral dari pupuk dan benar-benar kering", kata Sugiman.

Jika harga sedang tinggi, seorang petani bawang merah seperti Sugiman mampu meraup laba hingga Rp.8 juta rupiah. Sugiman berharap agar petani lebih mudah mendapatkan pupuk di pasaran, dengan harga yang lebih terjangkau, agar kedepannya, petani seperti dirinya dapat meningkatkan produktifitas pertanian lebih baik lagi. _diskominfo


komentar
tulis komentar anda

Create Account



Log In Your Account