Benarkah Bahasa Mempengaruhi Perilaku Keluarga?

Oleh : admin
11 Agustus 2017
80
  
data-layout="button_count" data-action="like" data-show-faces="false" data-share="false">

Sifat dan sikap individu saat berinteraksi dengan orang lain mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Karena itu, kebiasaan dan nilai-nilai baik perlu dipupuk sejak dini dari lingkungan terdekat, yakni keluarga.
Penggunaan bahasa daerah ternyata juga berpengaruh pada sikap dan perilaku masyarakat. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, di mana penduduknya pada umumnya menggunakan Bahasa Jawa, misalnya.
Peneliti sekaligus Pamong Belajar Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (BP PAUD dan Dikmas) Yogyakarta, Yohanes Lilik Subiyanto, mengatakan nilai budi bahasa dalam berkomunikasi dalam keluarga bisa terlihat.
"Ada baiknya Bahasa Jawa masih digunakan, tanpa harus bicara etnosentrisme atau kesukuan," kata Lilik saat ditemui di kantornya, Rabu (9/08/2017).
Lilik pun menjelaskan pengalaman pertemuannya dengan ibu-ibu Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Yogyakarta. Para ibu bercerita tentang pengalamannya di dalam keluarga.
Para ibu, kata dia, merasa beruntung anak-anaknya tumbuh dan belajar di Yogyakarta. Sebab, Bahasa Jawa masih bisa menjadipengendali diri dan perilaku. Anak-anak masih terbiasa berbahasa Jawa kromo (halus) pada orangtua.
"Saya menyayangkan jika Bahasa Jawa tidak lagi digunakan oleh masyarakat Jogja," ujar Lilik.
Menurut dia, seseorang yang menggunakan Bahasa Jawa kromo,meskipun dalam keadaan marah, pasti tidak mencetuskan makian. Sehingga, bahasa mampu mengendalikan sikap dan perilaku orang yang sedang dalam situasi tidak baik.
Lilik mengakui pemakaian Bahasa Jawa kromo mulai berkurang. Saat ini, sebagian keluarga lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia.
"Saya tidak berbicara bahwa Bahasa Jawa lebih baik digunakan sehari-hari. Tapi faktanya, bahasa juga memberikan pengaturan sosial pada orang. Sehingga, dia berperilaku seperti yang diharapkan," kata Lilik yang juga berlatar belakang Ilmu Religi dan Budaya dari Universitas Sanata Dharma.
Selain bahasa, perilaku yang dibiasakan dalam keluarga di rumah juga membentuk karakter seseorang. Lilik mengamati, kegiatan-kegiatan domestik yang sebenarnya biasa dilakukan di rumah oleh anggota keluarga, mulai ditinggalkan.
"Pekerjaan biasa seperti menyapu, mengepel, mencuci, itu kan sebenarnya biasa karena rumah kita milik kita. Tapi saya lihat ketika anak melakukannya hal itu jadi istimewa. Termasuk misalnya berkebun bersama, lalu di share di sosmed seakan jadi suatu yang khusus. Menurut saya ini menjadi sesuatu yang berubah," ujar Lilik.

Penulis : Auzi Amazia Domasti
Editor : Kurniasih Budi
http://edukasi.kompas.com


komentar
tulis komentar anda

Create Account



Log In Your Account