Image Not Available

Kreatif, Warga Desa Bagor Miri Ubah Limbah Kulit Pisang Jadi Keripik


admin | 27 Maret 2023 | 464

SRAGEN – Berawal dari banyaknya limbah sampah kulit pisang yang membuat tidak nyaman, Sukir (45 tahun) Warga Dukuh Bagor RT 09, Desa Bagor, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen malah mengkreasikannya menjadi camilan atau makanan ringan yang lezat.

Proses pengolahan keripik kulit pisang yang cukup mudah dan juga cara pemasarannya yang tidak sulit menjadikan usaha keripik kulit pisang (kupis) ini bisa dilakukan oleh siapapun.

Sukir bersama sang istri, Siti Nurlaila (38 tahun) merupakan sepasang suami istri yang menciptakan ide kulit pisang menjadi olahan keripik kupis dengan merek “Cap Jempol”. Ide ini tercipta baru bulan Januari 2023 lalu.

“Karena di Desa kami (Bagor) ada program Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Terus saya kepikiran untuk mencari ide produk makanan yang kiranya nanti bisa menjadi makanan khas atau unggulan di Desa kami,” jelas Sukir.

Sukir mengaku terpikirkan mengolah kulit pisang menjadi keripik dengan harapan bisa menjadi makanan ciri khas Desa Bagor sebagai desa penyangga pariwisata khususnya dikawasan New Kemukus, Sumberlawang dan Agrowisata Sejahtera Mandiri, Miri.

Limbah kupis diambil Sukir dari usaha milik temannya yang memproduksi keripik pisang.

“Jadi teman saya yang membuat keripik pisangnya, kami ambil limbah kulit pisangnya,” lanjutnya.

Setiap harinya, Sukir yang dibantu sang istrinya untuk sementara bisa memproduksi 5 kg – 7 kg kulit pisang dengan jenis pisang raja nangka, pisang kapok dan pisang kepit kuning.

Cara pengolahannya pun cukup mudah, yakni kulit pisang dicuci bersih terlebih dahulu, lalu rendam dengan garam dan kapur siri selama 2 jam untuk menghilangkan getahnya. Setelah dicuci, kukus selama 30 menit – 1 jam.

“Kemudian setelah dikukus ditiriska dan cuci lagi, lanjut diiris – iris menjadi keripik. Barulah dicampur bumbu dan tepung, dan digoreng,” kata Sukir.

Sukir menambahkan untuk varian rasa sementara ada original, pedas dan manis. Untuk harga, mulai Rp. 1.000,- per kemasan paling kecil. Sedangkan Rp. 5.000,- per kemasan 50 gram dan Rp. 8.000,- sampai Rp. 10.000,- untuk kemasan 100 gram. Sampai saat ini mereka mampu mendapat omzet Rp. 100.000,- sampai Rp. 300.000,- per harinya.

“Kalau kemasan yang Rp.1.000,- an diedarkan di warung – warung terdekat wilayah Desa Bagor, Brojol, Soko. Tapi, kalau yang kemasan 50 gram dan 100 gram sementara hanya di Wisata New Kemukus, Sumberlawang dan Agrowisata Mandiri Sejahtera, Miri. Karena izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) masih proses,” ungkapnya.

Tak hanya keripik kupis, kedepan Sukir berencana juga akan memproduksi ceriping dari nasi.

Jika tertarik dan penasaran mencoba krispi dan lezatnya keripik kupis ini bisa hubungi Nomor WhatsApp 0889-5914-003.

 

Penulis : Miyos_Diskominfo