Image Not Available

Kisah Ajaib Berkah Tirta Nirmala Bayanan


admin | 27 Maret 2023 | 1684

SRAGEN – Obyek Wisata Pemandian Air Panas Bayanan merupakan salah satu unggulan wisata di Kabupaten Sragen. Terletak di wilayah desa Jambeyan kecamatan Sambirejo, selain terkenal memiliki sumber air panas yang diyakini untuk menyembuhkan penyakit, Pemandian Air Panas Bayanan juga memiliki pesona keindahan alam.

 Diresmikan oleh Bupati Sragen dr. Kusdinar Untung Yuni Sukowati pada 12 Januari 2022 lalu, Pemandian Air Panas Bayanan telah direnovasi selama kurang lebih dua tahun (tahun 2020 – 2022). Kini pemandian tersebut kian menarik seperti jalan setapak menuju Bukit Gong dibuat taman dengan cat warna-warni, ada patung satwa, puluhan gazebo dan wahana permainan untuk anak-anak, panggung hiburan serta lahan parkir yang luas.

Bayanan yang dulu dikenal  dengan nama Umbul Tirta Nirmala tidak lepas dari sejarah asal usul Bayanan yang sudah tercatat sejak abad 19. Air panas Bayanan mengandung belerang sangat bermanfaat untuk kesehatan seperti menyembuhkan masalah kulit, memperlancar sirkulasi darah dan masih banyak lagi. Khasiat yang terkandung dalam air panas Tirta Nirmala Bayanan ternyata pernah mendapat perhatian media massa di era Pemerintahan Hindia Belanda. Koran Bataviaasch Nieuwsblad terbitan 6 November 1890 memuat kabar ditemukannya sumber air suam suam kuku (hangat) secara tidak sengaja oleh putra tuan Nimrods

Disebutkan di koran tersebut bahwa tidak jauh dari Halte Kedoengbanteng terdapat sebuah Desa bernama Bajanan (Bayanan) yang masuk wilayah dari perusahaan (perkebunan) terkenal Ngaroem (Sragen). Di Desa tersebut terdapat sebuah sumur yang memunculkan obat air panas suam suam kuku, yang manjur untuk menyembuhkan penyakit khususnya kusta.

Dalam beberapa waktu terakhir area tersebut telah menarik perhatian ratusan penduduk asli dari berbagai tempat, termasuk Priyayi terkemuka dari Solo dan di tempat lain. Dengan beberapa alasan karena ingin tahu atau untuk kesehatan, mereka telah mengunjungi tempat itu dan mengambil air.

Saat itu, setiap hari banyak orang datang dan pergi dari Yogyakarta, Ponorogo, Madiun, Pacitan. Salah satu priyayi adalah Raden Ayu dari Bupati Sragen yang menderita reumatik selama bertahun-tahun dan hampir tidak bisa berjalan lagi. Dia tersembuhkan dari penyakitnya dan sekarang bisa berjalan kembali setelah mandi di sumber air panas itu selama beberapa hari. Selain itu seorang Raden Ayu dari Kaliyoso (waktu itu masih wilayah Sragen) adik perempuan Radhen Mas ToeMenggoeng Djojodiningrat pun telah berkunjung untuk mendapatkan manfaat air tersebut.

Beberapa penderita dari kalangan terhormat yang telah mengalami kebutaan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun juga telah pulih karena khasiat air Bayanan. Sementara itu, beberapa orang yang menderita sakit kepala parah dan persisten sembuh total setelah mandi selama 12 jam.

Kabar tentang umbul Bayanan ini pun telah menarik perhatian Kraton Kasunanan Surakarta. Pangeran Adipati Anom mengirim seorang misionaris Belanda untuk menguji kualitas air umbul Bayanan. Tampaknya hasilnya cukup meyakinkan pihak istana Surakarta karena setelah itu, beberapa pangeran dari Kraton Kasunanan Surakarta mengunjungi umbul Bayanan sebanyak dua kali. Setiap kali berkunjung, para pangeran itu membawa serta air umbul bayanan sebanyak 12 kaleng minyak ke Kraton Surakarta.

Lebih seabad kemudian, Balai Penyelidikan Dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta pun melakukan penyelidikan serupa. Hasilnya menunjukkan adanya banyak unsur/senyawa kimia yang terkandung dalam Sumber Air Panas Bayanan antara lain belerang (sragenkan.go.id, Agustus 2018)

Masih merujuk koran Bataviaasch Nieuwsblad, mata air Bayanan sebenarnya telah ditemukan beberapa dekade sebelumnya. Namun, oleh sebab yang belum diketahui, mata air panas itu kemudian terbengkalai, tertutup semak belukar dan pepohonan hutan. Setelah selama berpuluh tahun sempat terlupakan umbul itu ditemukan tanpa sengaja oleh putra Tuan Nimrods pada November 1890. Sejak itu, umbul air panas kembali dimanfaatkan untuk banyak orang.

 

JEJAK PESANTREN GEBANG TINATAR DALAM CERITA TUTUR GONG BAYAN

Di sisi lain, terdapat Pondok Pesantren Gebang Tinatar yang didirikan Kyai Ageng Mochammad Khasan Besari di Desa Tegalsari Ponorogo, Jawa Timur pada tahun 1700 M (Poernomo 1985, Babad Kyai Ageng Muhammad Besari, hal 21).

Sedangkan Menurut Drs Haris Daryono, Masa hidup Kyai Ageng Mochammad Khasan Besari adalah 1674 M -1747 M (Haris. D., 2006, Dari Majapahit Menuju Pondok Pesantren, hal 258). Kepemimpinan Pondok Pesantren Gebang Tinatar turun temurun dilanjutkan oleh anak cucu Kyai Ageng Mochammad Khasan Besari .

Pada tahun 1867 M – 1877 M, Pondok Pesantren Gebang Tinatar dipimpin oleh Kyai Kasan Anom I (Haris. D., idem).  Pada kurun waktu ini pula, kisah seputar mata air bayanan muncul. Tampaknya terdapat kaitan antara sosok ulama Pondok Gebang Tinatar Ponogoro dengan umbul Bayanan. Sebab, saat ini terdapat beberapa nama-nama yang secara toponim berkaitan dengan sosok Kyai Kasan Anom I.

Dalam cerita tutur para tetua masayarkat Bayanan, Gong untuk menyumbat umbul yang menyembur tak terkendali itu ditanam oleh Kyai Khasan dari Ponorogo. Sementara di atas sebuah bukit, tak jauh dari umbul bayanan sekarang, terdapat petilasan yang disebut warga sekitar dengan punden Ki Anom.

Sebagaimana ditulis di koran belanda 1890-11-06 Bataviaasch Nieuwsblad bahwa sumber air panas Bayanan yang diberitakan tersebut sebenarnya telah ditemukan beberapa dekade (20-30 tahun) sebelumnya, disekitar tahun 1860-1870. Pada periode itu pula, Kyai Khasan Anom I mememimpin Pondok Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari Ponorogo.

Maka, patut diduga bahwa Kyai Khasan dari Ponorogo yang selama ini tersiar dalam cerita rakyat Bayanan tak lain adalah Kyai Khasan Anom I, pemimpin dan ulama dari Pondok Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari Ponorogo.

Sementara itu petilasan tongkat Kyai/Eyang Anom tak jauh dari umbul Bayanan besar kemungkinan adalah lokasi yang pernah disinggahi Kyai Khasan Anom I. Kemungkinan, setelah membendung umbul air panas, beliau berkeliling berdakwah di daerah Bayanan sebelum kembali ke Ponorogo. Salah satu lokasi yang disinggahi adalah tempat dimana sekarang menjadi petilasan Eyang Anom. Didalam tanah petilasan itu dipercaya terdapat tongkat milik Eyang Anom

Gong sebagai alat musik gamelan jawa juga memiliki makna keagungan dan kebesaran Allah SWT. Tidak ada peristiwa yang terjadi tanpa seijin Allah SWT. Sedangkan Bayan dalam bahasa arab artinya terang. Sehingga Kyai Khasan menamakan Gong tersebut sebagai Gong Bayan sebagai sarana dakwah kultural dengan menggunakan perlambang simbolik, sebagai ciri khas ulama waktu itu yang menyebarkan agama Islam tanpa meninggalkan keberadaan seni budaya lokal.

 

Penulis  : Mira_Diskominfo

Editor    : Yuli_Diskominfo

Sumber : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen